Siang hari tepatnya pada hari sabtu 01 Agustus 1992 adalah saat-saat saya dilahirkan di dunia ini. Banyak orang mengatakan jika seorang anak lahir disiang hari maka ketika ia dewasa ia akan menjadi seorang yang penakut dan jika seorang anak lahir di malam hari , ia akan menjadi anak yang pemberani. Tetapi saya tidak setuju dengan stereotype tersebut. Tidaklah benar seseorang dikatakan berani dilihat dari kapan ia lahir. Sampai saat ini saya selalu berani jika harus bangun di malam hari atau pergi ke suatu tempat yang sepi dan sunyi. Saya juga berani dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan kehidupan pribadi saya dan saya juga berani untuk mengambil jalan saya sendiri dengan tanggungjawab yang harus saya pikul.
Mulyati Sholeha adalah nama yang diberikan oleh ayah kepada saya, tetapi saya tidak tahu apa sebenarnya arti dari nama tersebut dan mengapa ayah saya memberi nama saya seperti itu. Ketika masih kecil saya tidak terlalu mementingkan apa arti dari nama saya dan makna yang tersirat tersebut. Saya pun tidak pernah menanyakan hal tersebut sampai sekarang karena ayah saya sudah meninggal sejak saya berumur 8 tahun. Akhirnya kakak saya menceritakan bahwa awalnya nama saya hanyalah Mulyati yang berarti mulia. Kemudian ditambahkan akhiran nama saya dengan Sholeha, sehinga menjadi Mulyati Sholeha karena ayah saya mengharapkan saya menjadi wanita sholehah yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Sejak kecil saya telah di sekolah Madrasah Ibtidaiyah, kemudian Madrasah Tsanawiah dan Madrasah Aliyah, sehingga saya merasa cukup tau tentang agama yang saya sedang jalani ini dan menerapkan ilmu yang saya pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Saya pun sudah merasa telah menjadi anak yang diharapkan oleh kedua orangtua saya walaupun mungkin jika dihitung dalam angka persen belum 100% saya menjadi anak sholehah. Setidaknya saya menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya. Saya pun selalu mendo’akan ayah saya dan juga orang-orang yang telah meninggalkan saya.
Tidak sedikit dari teman saya yang mengatakan bahwa nama Mulyati itu seperti nama orang Jawa. Padahal sebenarnya saya adalah seorang anak Betawi asli. Banyak orang mengatakan bahwa orang Betawi itu malas atau tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu hal. Tetapi, tidak sedikit pula orang yang hanya mau memperkerjakan seseorang yang berasal dari suku Betawi tersebut dikarenakan mereka menganggap bahwa orang betawi tidak melupakan ibadahnya disaat ia bekerja. Bukanlah suatu masalah bagi saya jika saya dianggap seperti orang Jawa, Sunda ataupun lainnya karena saya telah bangga memiliki nama tersebut yang diberikan oleh ayah saya. Walaupun saya tidak mendengar langsung dari ayah saya apa arti dan makna dari anama saya, tetapi saya merasa sudah cukup penjelasan dari kakak saya. Mereka mengharapkan saya menjadi anak yang sholehah, sehingga tidak ada rasa ingin dalam hati saya untuk mengganti nama.
Gambar di samping merupakan deskripsi dari diri saya karena saya senang untuk berbagi cinta yang ada dalam hati saya kepada semua orang yang saya kenal. Dengan memberikan cinta dan kasih sayang maka saya juga akan merasakan cinta dimanapun saya berada. Saya begitu mencintai keluarga saya, teman, dan juga guru-guru saya. Hidup tanpa mereka akan terasa hampa dan hancur. Cinta akan mempermudah perjalanan hidup ini dan menjadikan hidup lebih menyenangkan. Dengan memberikan cinta kepada orang lain maka saya memberikan kehidupan lebih berwarna. Begitulah makna cinta yang ada dalam diri saya.