Selasa, 01 November 2011

Perbedaan Bukanlah Alasan Untuk Saling Menyendiri

           “Tidak ada manusia yang sempurna”, begitulah prinsip utama yang saya pegang ketika saya membandingkan antara diri sendiri dengan orang lain. Betapapun ia pintar dan cerdas dalam suatu bidang ilmu maka sesungguhnya akan ada lagi seorang yang lebih cerdas dalam bidang tersebut. Saat saya merefleksikan hal tersebut dalam diri saya, terpikirlah dalam benak otak saya bahwa suatu ilmu pengetahuan, kekayaan, kemiskinan, kepintaran, ataupun kebodohan akan selalu ada yang lebih rendah atau lebih tinggi.
Dunia ini luas, besar, dan beragam. Mulai dari sukunya, bahasanya, adat istiadatnya, maupun perilaku seseorang yang masing-masing berbeda karakteristiknya. Keanekaragaman tersebut bagi saya adalah sebuah dorongan dalam hati untuk dapat lebih memahami hidup ini menjadi lebih bermakna diantara suku atau kebudayaan lain. Selain itu, juga untuk memperjuangkan hidup saya yang memiliki ras, suku, bahasa maupun perbedaan lainnya untuk saling menghormatinya. Ketika dalam suatu wilayah terdapat masyarakat yang homogen maka disanalah perlu adanya rasa toleransi dan kepedulian sesama.
Bagaimana jika kita bertemu dengan orang yang belum memiliki rasa toleran atau peduli kepada kita?. Jika saya memiliki masalah maka saya tidak akan melarikan diri begitu saja karena keputusan itu tidaklah tepat dan tidak akan memecahkan masalah yang terjadi dan saya tetap harus menghadapinya. Seperti pepatah mengatakan sepandai-pandai tupai melompat maka akan terjatuh pula.  Saya hidup tidak hanya sebagai makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup sehari-hari. Setiap manusia pasti ingin dimengerti, ingin dimanjakan ataupun merasa diperlukan. Seseorang yang belum memiliki rasa toleransi dan kepedulian mungkin saja sebenarnya ia ingin dimengerti atau diperhatikan terlebih dahulu. Jadi, tidaklah salah jika saya lebih dahulu untuk mengerti dan memahaminya untuk membuat ia merasa lebih nyaman dengan saya.
Belum memiliki rasa toleran atau kepedulian bukan berarti hanya terjadi pada orang-orang yang memiliki perbedaan suku, bahasa, kebudayaan ataupun keyakinannya. Hal tersebut dapat saja terjadi dengan orang-orang yang berasal dari satu wilayah atau daerah. Jadi, perbedaan bukanlah suatu hal yang harus dibesar-besarkan ataupun sebagai alasan untuk mengucilkan dan menghina satu sama lain. Akan tetapi jadikanlah perbedaan sebagai pelajaran baru yang dapat dipetik hikmah dari kejadian itu. Perbedaan merupakan sesuatu yang unik yang dapat membuat kita saling mengenal dan memahaminya, sehingga akan ada komunikasi antara suatu suku dengan suku lain.  
Perbedaan juga terjadi pada diri saya yang merupakan seorang anak perempuan, yang masih sekolah ditingkat Perguruan Tinggi, berasal dari suku Betawi, dan beragama Islam. Awalnya saya selalu merasa sebagai seorang yang memiliki mayoritas karena sejak kecil saya hidup ditengah-tengah orang yang beragama Islam seperti saya, bersuku betawi, dan berbahasa betawi. Sedangkan jumlah mereka orang-orang yang berlainan suku dah bahasa dengan saya  hanyalah sedikit, sehingga saya merasa sudah memahami wilayah saya dengan baik.
Namun, ketika saya memasuki dunia di Perguruan Tinggi terjadi suatu hal yang baru bagi diri ini. Sebelumnya saya merasa seorang yang selalu menjadi mayoritas tetapi ketika di sana saya menjadi minoritas. Tidak banyak dari mahasiswa di Perguruan Tinggi tempat saya belajar yang berasal dari suku Betawi. Kebanyakan dari mereka berasal dari Sunda, Jawa maupun Batak. Setiap suku mempunyai adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda. Mereka yang bersukukan Sunda memiliki suara yang lembut dan halus ketika berbicara begitu pula dengan Jawa. Sedangkan teman saya yang berasal dari Batak ada yang memiliki suari keras ada pula yang lembut. Hal itu tergantung dari pribadi masing-masing dan karakteristiknya, sehingga sekarang saya tahu secara langsung karakteristik dari beberapa suku.
Akan tetapi disisi lain saya masih menjadi mayoritas dilingkungan saya yaitu sebagai seorang perempuan yang beragama Islam. Hal ini masih menjadi suatu hal yang baru bagi saya ketika banyak orang disekeliling saya yang berbeda keyakinan. Perbedaan tersebut telah menjadi pelajaran baru bagi saya untuk hidup saling melengkapi satu sama lain dan memotivasi saya untuk menjadi lebih baik dalam mentaati perintah-Nya, separti teman-teman saya yang beragama lain yang menurut pemandangan saya mereka sangatlah patuh dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya. Jadi, saya dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia pasti pernah merasakan dirinya sebagai mayoritas dan juga minoritas, hanya saja memiliki jalan yang berbeda dalam hal bagaimana ia dapat beradaptasi dengan baik diantara dua bagian tersebut.    

By Mulyati

Selasa, 04 Oktober 2011

About Me


                Siang hari tepatnya pada hari sabtu 01 Agustus 1992 adalah saat-saat saya dilahirkan di dunia ini. Banyak orang mengatakan jika seorang anak lahir disiang hari maka ketika ia dewasa ia akan menjadi seorang yang penakut dan jika seorang anak lahir di malam hari , ia akan menjadi anak yang pemberani. Tetapi saya tidak setuju dengan stereotype  tersebut. Tidaklah  benar seseorang dikatakan berani dilihat dari kapan ia lahir. Sampai saat ini saya selalu berani jika harus bangun di malam hari atau pergi ke suatu tempat yang sepi dan sunyi. Saya juga berani dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan kehidupan pribadi saya dan saya juga berani untuk mengambil jalan saya sendiri dengan tanggungjawab yang harus saya pikul.
                Mulyati Sholeha adalah nama yang diberikan oleh ayah kepada saya, tetapi saya tidak tahu apa sebenarnya arti dari nama tersebut dan mengapa ayah saya memberi nama saya seperti itu. Ketika masih kecil saya tidak terlalu mementingkan apa arti dari nama saya dan makna yang tersirat tersebut. Saya pun tidak pernah menanyakan hal tersebut sampai sekarang karena ayah saya sudah meninggal sejak saya berumur 8 tahun. Akhirnya kakak saya menceritakan bahwa awalnya nama saya hanyalah Mulyati yang berarti mulia. Kemudian ditambahkan akhiran nama saya dengan Sholeha, sehinga menjadi Mulyati Sholeha karena ayah saya mengharapkan saya  menjadi wanita sholehah yang dimuliakan oleh Allah SWT.
                Sejak kecil saya telah di sekolah Madrasah Ibtidaiyah, kemudian Madrasah Tsanawiah dan Madrasah Aliyah, sehingga saya merasa    cukup tau tentang agama yang saya sedang jalani ini dan menerapkan ilmu yang saya pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Saya pun sudah merasa telah menjadi anak yang diharapkan oleh kedua orangtua saya walaupun mungkin jika dihitung dalam angka persen belum 100% saya menjadi anak sholehah. Setidaknya saya menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya. Saya pun selalu mendo’akan ayah saya dan juga orang-orang yang telah meninggalkan saya.
                Tidak sedikit dari teman saya yang mengatakan bahwa nama Mulyati itu seperti nama orang Jawa. Padahal sebenarnya saya adalah seorang anak Betawi asli. Banyak orang mengatakan bahwa orang Betawi itu malas atau tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu hal. Tetapi, tidak sedikit pula orang yang hanya mau memperkerjakan seseorang yang berasal dari suku Betawi tersebut dikarenakan mereka menganggap bahwa orang betawi tidak melupakan ibadahnya disaat ia bekerja. Bukanlah suatu masalah bagi saya jika saya dianggap seperti orang Jawa, Sunda ataupun lainnya karena saya telah bangga memiliki nama tersebut yang diberikan oleh ayah saya. Walaupun saya tidak mendengar langsung dari ayah saya apa arti dan makna dari anama saya, tetapi saya merasa sudah cukup penjelasan dari kakak saya. Mereka mengharapkan saya menjadi anak yang sholehah, sehingga tidak ada rasa ingin dalam hati saya untuk mengganti nama.

 
Gambar di samping merupakan deskripsi dari diri saya karena saya senang untuk berbagi cinta yang ada dalam hati saya kepada semua orang yang saya kenal. Dengan memberikan cinta dan kasih sayang maka saya juga akan merasakan cinta dimanapun saya berada. Saya begitu mencintai keluarga saya, teman, dan juga guru-guru saya. Hidup tanpa mereka akan terasa hampa dan hancur. Cinta akan mempermudah perjalanan hidup ini dan menjadikan hidup lebih menyenangkan. Dengan memberikan cinta kepada orang lain maka saya memberikan kehidupan lebih berwarna. Begitulah makna cinta yang ada dalam diri saya.

Knowledgeble of Teacher?


What should have a mathematics teacher? When I was in Elementary School, I  have taught by my teacher that teach in the lesson mathematics and also lesson sains and social. When She was taught, she just teach in one method, there is conventional method. She taught using blackboard and explaining in the front of the all student while the student only sit in the chair. After the teacher finish give explanation, she gives us the keyword in this chapter that have to remember for us. For example, when taught about a parameter from a rectangle she just teach using blackboard for the explanation and she wrote in the blackboard. After the explanation the teacher give square for the formula or pattern of mathematics about parameter rectangle. I didn’t understand about the parameter. So, I just make conclusion that mathematics is the lesson for remember the pattern. Is it right?
 At the end of the lesson the teacher give us exercise that from the book.  For example, How the parameter of the rectangle that have long 7cm and width 5cm? All of the students did the exercise, but most of them didn’t understand  the right answer and me too. I didn’t understand what is parameter of a rectangle.  Then, the teacher said that the exercise to be the homework .  When I came to my home I just crying because can’t solve the homework and when my brother saw my book he said “this is easy ,Mul”  and I think he can said that because he a junior school’s student while I’m a Fourth Elementary School . At the end my brother who did my homework.  
The next meeting,  my teacher doing collect our task and we correct together and give explanation again. At he end I can sole the exercise well about the parameter rectangle and I like accounting and doing exercise mathematics with using the pattern, but I can not answer the exercise that related in real life. For the example, when we learnt about number decimal (subtract and additional) and the question is MS. Lina is a tailor. She has 3/2 meter fabric that want to make a clothes for male and female. The fabric thet she need is 8/3. How many part that she have to buy in market?
In the class PETA, I have learnt about “Teacher Professional Knowledge”. In here I can learn about how to teach the students, to manage the class room, instructional strategies, give exercise or homework to student and how to make students have fun in the learning. In the class PETA we didn’t only listening my lecturer, but we did group discussion, watching video, make a poster, and I think the important is every students can move on the place to other place. So, didn’t make me boring in the class. The ways to give a lesson for us like a  line that related in the one material to the next material. It is make us thinking step by step and understand about the topic. In SSE, I have many things how to teach better in the future, to make mathematics more interest.
If  you compare with my experience in the elementary school. What did you have?

Senin, 26 September 2011

My Expectation In Lesson Humanistics Studies and My Responds To Others

Manusia tidaklah hanya sebagai makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Begitulah kata-kata yang selalu guruku ajarkan padaku. Sebagai makhluk sosial banyak hal yang harus dikerjakan dengan kebersamaan atau keterlibatan orang lain. Ketika kita sedang berinteraksi dengan orang lain secara tidak sadar kita sedang melakukan sosialisasi.             Saat melakukan sosialisasi ada beberapa perbedaan antara kita dengan orang lain, baik dari cara berbicara, berperilaku, maupun kebiasaan-kebiasaannya, dll. Di mata kuliah ini aku berharap dapat lebih memahami berbagai macam perbedaan yang ada antara aku dengan orang lain. Perbedaan antar suku, ras, bangsa, maupun kepercayaan seseorang. Di mata kuliah Humanistics Studies ini pula aku ingin belajar lebih mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada dalam suatu kelompok masyarakat yang memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Semoga dengan begitu aku dapat lebih memahami karakter dari setiap individu. Dengan mengetahui berbagai macam kebudayaan yang ada di Negara ini, aku juga mengharapkan nantinya dapat menjaga satu sama lain kebudayaan yang ada di Negara ini, sehingga tidak hilang begitu saja oleh kebudayaan asing yang baru datang.
            Aku merupakan makhluk sosial karena dalam menjalani kehidupan sehari-hari aku membutuhkan orang lain. Di mulai dari keluargaku, teman-teman, Ibu dan Bpk guru di sekolah , Sopir angkot ketika berangkat dan pulang sekolah, Dokter ketika aku sakit, Dosenku sekarang di SSE dan masih banyak lagi orang-orang yang telah membantuku dalam menjalani hidup ini. Sikapku terhadap mereka semua sama yaitu menghormatinya dan menyayanginya dengan segenap hati. Keluargaku adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku, orang tuaku telah memberikan kesempatan padaku untuk menikmati indahnya dunia ini dan kakak serta adikku telah memberikan hidup ini lebih berwarna.
            Hidupku akan hampa jika tidak bertemu teman, apalagi jika tidak memilikinya. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada diri ini jika hidup tanpa teman. Aku sangat bahagia sekali jika berada di dekat orang-orang yang usianya tidak jauh berbeda denganku. Di SSE ini banyak berbagai teman dari suku yang berbeda, aku pun sangat bahagia melihat perbedaan tersebut. Dengan begitu aku dapat mengambil sisi positifnya yaitu semakin mengetahui karakter dari setiap suku. Tidak ada yang dapat memisahkan pertemanan aku dengan seseorang yang aku ingin merasa dekat dengannya.
Di SSE pula banyak temanku yang memiliki keyakinan berbeda, tetapi kita tidak menganggap itu sebagai suatu masalah yang harus dibesar-besarkan. Itu adalah masalah keyakinan yang setiap orang berhak memilihnya. Intinya kita sama-sama diajarkan mengerjakan kebaikan. Jadi, berbuatlah baik kepada setiap orang dan semua ciptaan-Nya tanpa melihat keyakinan yang dipegang olehnya tanpa mengharapkan imbalan. Karena suatu saat nanti kita juga akan membutuhkan orang lain yang mungkin berbeda keyakinan dengan kita. Hal ini mengingatkanku pada kata mutiara yang berbunyi, “Jangan pikirkan apa yang kita dapatkan, tetapi pikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk orang lain yang bermanfaat” (Mario Teguh).
            Tanpa seorang guru, aku akan menjadi seorang yang bodoh yang tidak dapat melakukan hal yang berguna dan bermanfaat untukku dan orang lain. Begitu banyak ilmu yang telah beliau berikan padaku, tak terhitungkan, tak terbayangkan dan jasa beliau tanpa tanda jahasa. Tidak sedikit pula perilaku baik yang telah ia contohkan padaku sebagai teladan dalam berperilaku sehari-hari. Maka sepantasnya aku memberikan rasa hormat dan patuh yang besar kepadanya. Usia dan pekerjaan bukanlah suatu hal yang perlu dibedakan, aku pun akan memiliki rasa hormat yang tinggi kepada Sopir angkot yang telah memgantarkan dan menjemputku setiap kali berangkat dan pulang menuntut ilmu. Mereka telah berbuat amal yang begitu besar, berbaik hati mengantarkan penumpang-penumpangnya ketempat tujuan. Tidak mengenal teriknya panas sinar matahari maupun  lebatnya hujan melawan arah lajunya. Mereka mencari nafkah untuk keluarganya, betapa senang hatiku melihat orang tua yang berjuang demi keluarganya dan anak-anaknya dirumah seperti itu. Perasaanku sangat bangga kepada mereka yang telah berjuang dan berkorban besar bagi keluarganya.